Cerita kita adalah sisa buih di gelas bir. Berbekas tak hilang lekas,
membekas dan tak langsung tuntas. Pasti, menuang lg satu yg baru
Bila gelas baru pun berlanjut, masih tetap bir yang sama.
"Tak puas kalau cuma segelas", lalu kita pun tertawa karenanya
Dan
kita biasa meminumnya bergantian, tidak terburu-buru dan tidak
berlalu-lalu. Konstan, seakan banyak waktu yg berbuku menunggu
"Aku ingin menulisnya diatas kertas", ujarmu.
Aku pun menyahut,
"aku juga sedang menuangnya didalam gelas"
Sejujurnya
kita bs saling menyakiti dengan gelas bir yg dulu kita pecahkan. Namun
belum ada sakit yg bs menggantikan candu kita pd cinta
Inginku yg
lalu jgn dibiarkan berlalu, biarkan kita rengkuh dan sakit karenanya.
Sampai tak sembuh-sembuh. Agar aku jenuh, demikian pun kamu
"Kamu percaya cinta?" Tanyaku sebentar.
"Yg aku percaya, botol ini mampu membelah dadamu",
katamu dgn bangga........
....
Kamu biasa tau, aku tak punya nafsu, cuma cinta, cinta yg kata orang cinta segitiga, segilima, dan segi-segi lainnya.
Segi
dari setiap sendi pada sudut dimana rokok ku biasa disulut.
Bergelas-gelas bir ditiap semaput pun sering ku pagut, berlanjut sampai
kasur yg kusut
Sebab, kita ada rindu yg belum ketemu
Sebab, kita ada bir yg belum mencair
Sebab, ada kita di sauh yg menjauh, genggaman di mulut botol yg jatuh, dan lambaian manis diiringi bunyi peluit masinis.
Namun menyerahlah sayang, seiring waktu kurang bertemu pun kita saling mengerti
Diam-diam kita menggambar masa depan masing-masing dan ada kita berdua bersulang di bar biasa bertemu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar