Selamat pagi, manis.
Aku ingin sekali lg menjadi teh mu dipagi hari, disaat perutmu sakit bulanan dan moodmu yg berantakan.
Gak perlu lagi gula, karena esensi gula pun terlekat padamu, pada bibirmu, yg masih membekas di kepala dan indra perasa.
Tapi teh-nya sudah dingin, bahkan basi.
Mungkin tawamu pun tak tersisa ketika aku salah mengeja teh menjadi the, entah ingat atau gak kita sering tertawa karena itu, dulu.
Namun cangkir yg biasa aku siapkan masih ada dan menunggumu untuk mengisinya kembali. Itu pun jika kamu mau. Itu pun jg jika aku bisa.
Jujur, aku ingin membencimu dan lupa menyiapkan cangkir itu setiap pagi. Tapi apa bisa aku melupakan hal yg aku benci?
Kekasih tulisanku, ingat ada hatiku yg terselip disetiap kata dan spasi ini. Sedikit yg berbisik agar kamu cepat kembali, ada juga yg berteriak agar kamu cepat mati.
Karena yg ku tau, jika dengan teh rasa rindu tak ku temu dirimu, dengan tiang air mata sepanjang apa mampu ku hanyutkan dirimu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar